Minggu, 22 Februari 2015

Partisipasi PB Wanita sebagai panitia dalam kongres IMWU (International Muslim Women Union)

1. Foto pertama : Panitia kongres IMWU (International Muslim Women Union) dari Wanita Alirsyad foto bareng utusan Palestina Mrs Effat Al Jabari ( jilbab putih)

2. Foto kedua: Bersama founding mother of IMWU Prof DR Suad Alfateh Al badawi from Sudan (jilbab biru) di akhir acara kongres IMWU di UNIV Asy-Syafiiyyah.

Prof DR Suad Alfateh Al Badawi umur mmg Tua (83 th) tp semangat 30 th. Orator Ulung dan msh briliant pemikirannya. Beliau Hebat dan pantas disebut Tokoh pejuang Muslimah dunia. Subhanallah." Wanita harus kuat, tegar, dan berjuang buat keluarganya,Agamanya , bangsa dan Negaranya dan Tidak boleh Lemah dan takut membela kebenaran selama berpegang pada Alqur'an dan Al hadist.

3. Foto ketiga : PB wanita Alirsyad berpartisipasi dalam acara The board Of Trustees meeting International Muslim women Union (iMwU) yg dihadiri oleh 23 negara bertempat di Plaza Asy-Syafi'iyah Jakarta.

4. Foto keempat : Firdaus Kautsar, president of IMWU.

5. Foto kelima : Hj. Dr. Tuti alawiyah, tuan rumah penyelenggara acara ini.

Kapolri Hadir, Wanita Berjilbab Penuhi `Fraksi Balkon`Komisi III

Balkon ruang rapat Komisi III DPR mendadak penuh. Bukan oleh wartawan, tapi puluhan wanita berjilbab. Massa 'Fraksi Balkon' tampak antusias memperhatikan rapat kerja (raker) antara anggota Komisi III bidang hukum dengan Kapolri Jenderal Polisi Sutarman. 

"Kami datang untuk mendukung Polwan berjilbab. Jangan sampai dana menjadi kendala. Kita senang Polwan boleh berjilbab tapi kecewa dengan penundaan," kata Eva Hanisa Hasan Ambada dari Pengurus Besar Wanita Al Irsyad Al Islamiah, di balkon Komisi III DPR, Jakarta, Senin (16/12/2013).

Eva mempertanyakan alasan pimpinan Polri yang menunda pemakaian jilbab Polwan. Bila dana menjadi kendala, kata dia, ormas wanita di seluruh Indonesia akan turut membantu menyediakan kelengkapan jilbab.

"Kita nggak mau ini berlarut-larut. Kita sanggup dari ormas-ormas akan cari dana. Karena nggak mungkin dana itu nggak ada untuk jilbab," tuturnya.

Sementara itu, anggota Komisi III DPR Aboe Bakar Al Habsy juga meminta kepada pimpinan Polri agar penundaan Polwan berjilbab tidak terlalu lama. Sebab, menggunakan jilbab merupakan hak seorang muslimah.

"Di beberapa negara barat saja, Amerika, Kanada, dan beberapa negara lain itu juga tidak masalah. Semoga berjalan lebih cepat," jelas politisi PKS itu.

Sutarman yang hadir dalam rapat menjawab keraguan kebijakan mengenai Polwan bejilbab. Menurutnya, saat ini polisi tengah merumuskan aturan dalam menyeragamkan mengenai kebijakan Polwan berjilbab. 

"Pemakaian jilbab hak tiap muslimah. Polri nggak keberatan. Hak sudah diberikan tapi kewajiban belum seragam. Karena warna-warni maka kita atur untuk menyeragamkan," tandas Sutarman. (Adm/Ism)

Sumber : http://m.liputan6.com/news/read/776049/kapolri-hadir-wanita-berjilbab-penuhi-fraksi-balkonkomisi-iii

Wanita Al Irsyad Gelar Seminar ‘Smart with Gadget’: Menjadi Lebih Smart daripada Smartphone

06 February 2015 19:15 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Gadget sudah menjadi kebutuhan primer bagi setiap orang, terutama generasi muda. Mereka tak bisa dilepaskan dari urusan gadget. Namun, sayangnya, teknologi canggih yang tak terkontrol dengan baik ini bisa menjadi bumerang yang malah merusak penggunanya.

Berangkat dari keprihatinan ini, Pimpinan Pusat Wanita Al Irsyad menggelar seminar sehari bertajuk “Smart with Gadget” di Masjid Abu Bakar Ash Shiddiq Jalan Otista Raya No 411 Jakarta Timur, Sabtu (31/1) pagi lalu. Wanita Al Irsyad memang salah satu organisasi Muslimah yang konsen terhadap permasalahan seputar wanita dan anak-anak. Tujuan seminar ini agar generasi muda bisa memanfaatkan smartphone mereka dengan cara yang smart pula.

Ketua Umum Wanita Al-Irsyad Fahimah Askar mengatakan, banyak orang tua yang abai memperhatikan anak-anaknya dalam menggunakan gadget. Bahkan, tak sedikit dari orang tua yang tak mau tahu dengan gadget anak-anaknya. Padahal, melalui gadget mereka yang kecil, mereka bisa mengakses setiap konten yang bisa membahayakan mentalnya.

“Peran ibu itu sangat penting. Mereka menjadi pendidik bagi anak-anaknya di rumah. Jadi, mereka harus cerdas dan aktif dalam membimbing anak-anaknya, seperti urusan gadget anak-anaknya,” jelas Fathimah kepada Republika, Ahad (31/1).

Ketua Pelaksana Luly Larissa menambahkan, peserta yang didominasi oleh ibu-ibu sangat antusias mengikuti seminar. Panitia yang bekerja sama dengan Rumah Sakit Ibu dan Anak UMMI, Republika Online, dan kantor berita Mirajnews Agency ini mendatangkan beberapa pembicara.

Pembicara-pembicara yang hadir, yaitu Dr Laila Mona Ganiem Msi dari Komisioner Konsil Kedokteran Indonesia, dr Nelani Samsudin yang merupakan pemerhati dunia anak yang juga dokter spesialis mata RS Al-Ihsan, dan Didi Widiatmoko (Didi Petet) yang merupakan aktor senior pemerhati dunia pendidikan anak. Selain itu, juga ada sesi diskusi bersama Ustaz Amir Faishol Fath dan Kepala Sosial Media Republika Zaky Alhamzah seputar pemanfaatan gadget secara positif.

Dr Laila memaparkan berbagai bahaya yang mengancam generasi muda di media sosial. Menurutnya, anak-anak yang kecanduan gadget bisa berdampak buruk pada prestasi mereka di sekolah. “Internet ini bisa membuat seseorang kecanduan, terutama yang menyangkut pornografi dan dapat menghabiskan uang karena hanya untuk melayani kecanduan tersebut,” katanya memaparkan.

Ustaz Amir Faishol juga mengingatkan hal yang sama. Banyak berinteraksi dengan gadget juga bisa melalaikan seseorang dari mengingat Allah. “Kita bisa menganalogikan bagaimana Rasulullah SAW ketika keluar dari toilet selalu membaca doa dan memohon ampun karena tidak dapat berzikir dan mengingat Allah di dalam toilet. Bagaimana dengan manusia yang selalu mengingat gadget lebih dari apa pun?” jelasnya.

Sedangkan, Didi Petet mengakui perubahan zaman terjadi begitu cepat. Dedi memesankan, jangan sampai teknologi yang fungsi asalnya untuk memudahkan urusan manusia malah menjadi perusak. Pengguna smartphone harus lebih smart dari smartphone-nya. Merekalah yang mengontrol smartphone mereka, bukan malah dikontrol dan dikendalikan oleh gadget mereka tersebut.

Oleh Hannan Putra  ed: Hafidz Muftisany

Sumber : http://m.republika.co.id/berita/koran/dialog-jumat/15/02/06/njcndd-wanita-al-irsyad-gelar-seminar-smart-with-gadget-menjadi-lebih-smart-daripada-smartphone

Organisasi Perempuan Al Irsyad: Indonesia Semakin Sekuler

Rabu, 21 Januari 2015 18:00:08

JAKARTA -- Organisasi Perempuan Al Irsyad menganggap Indonesia semakin sekuler dari waktu ke waktu. Bahkan ada upaya meminggirkan Islam.

Hal itu diungkap  Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Perempuan Al Irsyad, Mufidah Said saat bersilaturahim ke Harian Republika, Rabu (21/1). Mufidah menyatakan, kebijakan pemerintah seperti rencana-rencana perevisian doa di sekolah dan pengosongan kolom agama di KTP bisa menjadi salah satu indikasi adanya peminggiran agama Islam.

"Padahal Indonesia merupakan negara yang mayoritas Muslim," ungkap Mufidah.

Menurut Mufida, pemerintah seperti ingin membawa Indonesia ke sekulerisme sedikit demi sedikit. Mereka juga, lanjutnya, seperti ingin menghilangkan nilai syari yang selama ini hidup di Indonesia. Hal ini terbukti dengan rencana-rencana mereka yang belakangan ini beredar di publik.

Melihat kondisi demikian, Mufida mengaku MUI dan ormas lainnya memiliki tugas yang lebih berat saat ini. Menurutnya, para ulama dan ormas Islam harus bisa memantau putusan atau isu-isu yang berkembang dari pemerintahan.

Sumber : http://m.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/15/01/21/niios1-organisasi-perempuan-al-irsyad-indonesia-semakin-sekuler

WANITA AL-IRSYAD GELAR SEMINAR “SMART WITH GADGET”

Jakarta, 9 Rabi’ul Akhir 1436/30 Januari 2015 (MINA) – Organisasi Wanita Al-Irsyad bekerjasama dengan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq Jakarta, dijadwalkan menyelenggarakan seminar bertema “Smart With Gadget” di Masjid Abu Bakar Ash Shiddiq Jalan Otista Raya No. 411 Jakarta Timur, Sabtu (31/1) pagi.

Ketua Pelaksana, Luly Larissa kepada Kantor Berita Islam MINA (Mi’raj Islamic News Agency) di Jakarta, Jumat (30/1) mengatakan, seminar bertujuan memberikan pencerahan dan wawasan bagaimana generasi saat ini dapat mengantisipasi dampak negatif teknologi informasi gadget(alat komunikasi elektronik praktis).

“Intinya kita ingin membuat cerdas para pengguna gadget, terutama di kalangan anak-anak, baik dari sisi peggunaan maupun pemilihan isi konten itu sendiri,” ujar Luly.

Pengguna gadget, terutama dari kalangan anak-anak, yang hampir tiap jam bersentuhan dengan alat tersebut, ternyata banyak menimbulkan dampat negatif, seperti dari sisi kesehatan mata, telinga, badan, dan perilaku sosial.

“Kita dengar cerita bagaimana seorang anak yang masa bodoh tatkala ada kejadian musibah di sekitarnya atau justru ikut-ikutanshare menyebarluaskan isi konten yang mengandung hoax alias fitnah,” paparnya.

Untuk itu, seminar menghadirkan berbagai narasumber antara lain dari unsur media Zaky Alhamzah (Republika Online), Amir Faishol Fath (Dosen dan Ustadz), Leila Mona Ganiem (Pakar Komunikasi dan Motivasi), serta Nelani Samsudin (Dokter Spesialis Mata).

Sementara itu, Ketua Umum Wanita Al-Irsyad, Fathimah Askar menambahkan, kegiatan Wanita Al-Irsyad sejenis seminar merupakan bagian dari kepedulian terhadap problematika umat terutama kalangan wanita dan anak-anak.

“Kita mendorong kaum ibu untuk aktif dan peduli terhadap permasalahan di sekitar kita, khususnya anak-anak pada era teknologi informasi saat ini,” ujar Fathimah.

Menurutnya, kaum ibu sebagai pendamping kaum laki-laki, mempunyai peranan penting dalam pola pendidikan anak-anak di rumah.

“Untuk itu, mereka harus diberdayakan, dicerdaskan, aktif berkegiatan yang positif, dengan tetap menjaga hijab dan syar’i,” imbuhnya.

Menurut Bagian Pendaftaran Panitia, dari target 100 peserta, hingga hari ini terdaftar 160 peserta, dari kalangan anak usia 9 tahun sampai orang tua usia 75 tahun.

Program berikutnya, setelah mengupas sisi positif negatif gadget, diprogramkan acara seminar atau diskusi “Al-Quran is My Gagdet“.

Acara seminar terselenggara atas dukungan media partner, antara lain Kantor Berita Islam MINA (Mi’raj Islamic News Agency), yang secara online 24 jam terbit dalam tiga bahasa (Indonesia, Arab dan Inggris). (L/P4/R05).

 

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Sumber : http://mirajnews.com/id/artikel/muslimah/wanita-alirsyad-selenggarakan-seminar-smart-gadget/

Perempuan Al-Irsyad sudah Berkiprah hampir 100 Tahun

Hidayatullah.com–Jika ada sebuah asumsi perempuan tidak memiliki peranan di dalam organisasi-organisasi dakwah,  rasanya hal ini tidak terjadi pada organisasi besar Al Irsyad. Tiga tahun dari berdirinya Al Irsyad Al Ismiyah tepat pada 6 September  1914   oleh Syeikh Ahmad Surkati, perempuan sudah memiliki kiprah dalam organisasi ini, demikian diungkap Mufidah Said Bawazier, SE.

“Iklim berorganisasi di Al Irsyad Al Islamiyah terasa memberikan ruang yang cukup baik untuk perempuan berkontribusi,” ujar  Wakil Ketua Pengurus Besar Wanita Al Irsyad periode 2012-2017 Mufidah Said Bawazier, di sela pertemuan berbagai ormas Muslimah dalam rangka konsolidasi perkembangan Rancangan Undang-undang Kesetaraan dan Keadilan Gender (RUU KKG) di Cikini Jakarta belum lama ini. [baca: Ormas Muslimah Sepakat Tolak RUU KKG]

Organisasi Wanita Al Irsyad adalah organisasi wanita Islam yang dinilai tidak fanatik dan tidak juga terlalu moderat, namun berpegang teguh pada prinsip dan koridor Syariat Islam.

Dalam perjalanannya, pada tahun 1960an Wanita Al Irsyad memang sempat berada dibawah Otonomi Pengurus Pusat Al Irsyad.

Namun dengan pertimbangan efektifitas dan kontribusi yang bisa lebih banyak diberikan oleh kaum perempuan, Melalui Surat Keputusan nomor 15 tertanggal 19 Shafar 1434 H atau 2 Januari 2013, Pimpinan Pusat Al-Irsyad Al-Islamiyyah sesuai kewenangannya memutuskan membentuk badan otonom Wanita Al-Irsyad. Bagi Wanita Al-Irsyad, dengan status otonom ini seolah “lahir kembali”, yang memudahkan berbagai keputusan organisasi dijalankan dan memberikan sumbangan yang besar tidak saja bagi Internal Al Irsyad bahkan dalam peran nasional.

Menutup pembicaraan siang itu, Mufidah Said mengatakan bahwa konsep pemberdayaan perempuan dalam pandangan Wanita Al Irsyad adalah pemberdayaan yang tetap berjalan dalam koridor Islam, tidak menyimpang dari kodratnya dengan menjadikan keluarga sebagai tanggung jawab utamanya.

“Perempuan yang berdaya adalah perempuan yang sejajar dengan laki-laki namun tidak dalam rangka merendahkan laki-laki. Perjuangan perempuan khususnya Wanita Al Irsyad yang tidak ingin berpangku tangan dan merasa harus turut andil terutama dalam bidang pendidikan khususnya pendidikan usia dini sebagaimana yang dijalankan dalam amal sholeh organisasi,” ujarnya.*/Rita (Jakarta)

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

Sumber : http://m.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2014/09/11/29250/mufidah-said-perempuan-al-irsyad-sudah-berkiprah-hampir-100-tahun.html#.VOn5OND-LqA

Wanita Al Irsyad Soroti Kebijakan yang Pinggirkan Islam

22 Januari 2015 15:00 WIB

JAKARTA — Organisaisi wanita Al Irsyad menganggap Indonesia semakin sekuler dari waktu ke waktu. Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Wanita Al Irsyad, Mufidah Said, menilai kebijakan yang terjadi belakangan ini seperti ingin meminggirkan Islam.

Mufidah menyatakan, kebijakan pemerintah, seperti rencana-rencana perevisian doa di sekolah dan pengosongan kolom agama di KTP, bisa menjadi salah satu indikasi adanya peminggiran agama Islam. "Padahal, Indonesia merupakan negara yang mayoritas Muslim," kata Mufidah kepada Republika saat berkunjung ke Kantor Republika, Jakarta Selatan, Rabu (21/1). 

Menurut Mufidah, pemerintah seperti ingin membawa Indonesia ke sekulerisme sedikit demi sedikit. Mereka juga, ia melanjutkan, seperti ingin menghilangkan nilai syar’i yang selama ini hidup di Indonesia. Hal itu terbukti dengan rencana-rencana mereka yang belakangan ini beredar di publik.

Melihat kondisi demikian, Mufida mengaku MUI dan ormas lainnya memiliki tugas yang lebih berat saat ini. Menurutnya, para ulama dan ormas Islam harus bisa memantau putusan atau isu-isu yang berkembang dari pemerintahan. 

Mufidah mengaku telah melakukan sidang dengan anggota ormas Islam lainnya di bawah naungan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ia bersama perwakilan 31 ormas lainnya telah membahas isu-isu yang berkembang di masyarakat, termasuk rencana dan kebijakan pemerintah. Menurutnya, isu yang dibahas tentu yang bersinggungan dengan agama Islam. "Sebelum disidangkan oleh pemerintah, kita sudah sidangkan lebih dahulu," ujarnya. 

Mufidah juga menjelaskan isu rencana pemerintah yang berkenaan tentang pengosongan kolom agama di KTP. Menurut Mufidah, MUI telah menegaskan Indonesia hanya mengakui enam agama. 

Jadi, kata Mufidah, MUI telah sepakat untuk menolak aliran-aliran yang ingin diakui oleh Indonesia. Sebab, dalam falsafah Indonesia memegang makna "berketuhanan" bukan "berkealiran atau kepercayaan".

Menurut Mufidah, isu pengosongan agama ini muncul karena adanya permintaan suatu aliran dan kepercayaan atau kebatinan. Mereka, ia mengungkapkan, mengusulkan ke pemerintah agar kepercayaan dan aliran mereka bisa diakui. 

Oleh karena itu, Mufidah mengaku MUI dan ormas lainnya pun berusaha untuk selalu bertindak cepat. Termasuk, katanya, dalam menindaklanjuti isu kolom agama itu. Hasilnya, ujarnya, MUI menegaskan menolak permintaan pengakuan aliran dan kepercayaan tersebut. 

ed: Muhammad Fakhruddin

Sumber : http://m.republika.co.id/berita/koran/khazanah-koran/15/01/22/nikjkf19-wanita-al-irsyad-soroti-kebijakan-yang-pinggirkan-islam